Zaman Motivasi dan Inspirasi


Masih ingat ini?
– Zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
– Zaman berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
– Zaman bercocok tanam
– Zaman perundagian

Ini adalah urutan zaman prasejarah berdasarkan pola mata pencaharian manusia sesuai pelajaran Sejarah di sekolah dulu. Tentang kebenarannya, wallahua’lam.

Di zaman berburu dan mengumpulkan makanan, manusia memanfaatkan semua sumber daya alam yang ada di tempat tinggalnya untuk keperluan isi perutnya. Dikuras habis. Setelah tak ada lagi yang bisa dikuras, manusia akan pindah ke tempat lainnya yang masih kaya akan sumber daya alam. Mereka hidup nomaden. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Lama kelamaan, manusia pun berfikir, sampai kapan mau terus-terusan bergantung pada apa yang disediakan alam saja? Bagaimana jika suatu saat nanti semua sumber daya itu habis? Tidak bisa begini terus. Harus ada yang diubah. Dari kesadaran itulah, manusia pun mengakhiri zaman nomaden itu dan memasuki zaman bercocok tanam. Dengan bercocok tanam, urusan perutnya aman, makanan tersedia selalu dari apa yang tumbuh di tanah. Mereka tidak harus selalu berburu. Kalaupun perlu, tidak terus-menerus. Mereka akhirnya bisa hidup menetap di suatu tempat.

Zaman terus bergulir. Manusia pun terus berfikir. Semakin lama, manusia tidak hanya bekerja sebagai petani yang bercocok tanam. Ada juga sebagian yang mulai menggeluti pekerjaan lainnya untuk menunjang hidup mereka, yaitu pertukangan. Maka masuklah manusia ke zaman perundagian.

Memang, aku tidak begitu ingat semua detail yang khas dari masing-masing zaman itu. Dan sebenarnya memang bukan itu juga inti tulisan ini. Aku hanya ingin menyoroti, bahwa ada suatu pola perubahan pada kehidupan manusia secara umum sesuai perguliran zaman. Yang mana, hal ini menandai bahwa memang pada kodratnya manusia adalah makhluk yang berfikir, yang ingin berkembang, yang ingin berubah menjadi lebih baik.

Lepas dari zaman prasejarah, manusia masuk ke zaman sejarah, yang sepak terjangnya terekam dalam hitam di atas putih. Dimana peradaban manusia semakin maju, dan semakin ingin lebih baik. Jika boleh melompati beberapa tahapan zaman lainnya yang kurang kuingat, aku ingin langsung membahas zaman permesinan. Diawali dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt, segenap kehidupan manusia kemudian berubah. Banyak pekerjaan manusia yang awalnya dikerjakan oleh manusia, mulai dipermudah dengan bantuan mesin. Berbagai mesin tercipta, mulai dari mesin-mesin produksi di pabrik, mesin untuk alat transportasi yang mempermudah interaksi jarak jauh antar-manusia, dan mesin-mesin lainnya di kehidupan rumah tangga sehari-hari. Di pelajaran sejarah, zaman ini lebih familiar di telinga sebagai Zaman Revolusi Industri.

Jika boleh melompat lagi, aku akan langsung masuk ke zaman selanjutnya yang sangat fenomenal, melebihi ke-fenomenal-an zaman industri. Itulah dia, Zaman Informasi dan Telekomunikasi. Dimana internet mulai dikenali. Berbagai informasi dengan mudah dapat digenggam hanya dalam hitungan detik. Kita serasa memiliki Pintu Kemana Saja Doraemon karena bisa melihat seluruh gambar “dunia” lewat Google. Bahkan serasa memiliki Satelit Pribadi karena bisa mengetahui hampir seluruh hal tentang seseorang hanya dengan internet. Misalnya, tahu tentang dia sekarang ada dimana dari Foursquare, tahu dia suka/tertarik/punya passion di bidang apa dari bio Facebooknya, dan bahkan tau tentang apa yang sedang dia pikirkan (karena memang dia “umumkan” secara besar-besaran) lewat status Facebooknya atau dari tweet-tweetnya. Manusia juga dapat berkomunikasi jarak jauh dengan sangat mudah. Ada berbagai layanan telekomunikasi dalam bentuk teks, voice, bahkan video; lewat satelit telepon ataupun internet. Hal yang dulu tidak pernah terbayangkan, sekarang telah terjadi.

Sekarang, kita masih berada di zaman yang terakhir, Zaman Informasi dan Telekomunikasi. Namun yang mulai terasa adalah, mulai ada satu zaman lagi yang akan semakin mewarnai sejarah peradaban manusia, yaitu Zaman Motivasi. Entah karena manusia memang semakin bobrok kualitas dirinya, atau justru sebaliknya, saat ini semakin banyak bermunculan tokoh-tokoh yang dapat disebut sebagai “Motivator”. Bahkan, hal ini telah menjadi suatu profesi tersendiri.

Bagiku pribadi, aku sangat menghargai orang-orang yang meluangkan waktunya untuk memberikan motivasi bagi orang-orang di sekitarnya. Di zaman ini, manusia tidak lagi hanya memikirkan isi perutnya saja, melainkan turut memikirkan bagaimana orang lain juga bisa berhasil. Bahkan ada di antara beberapa motivator tersebut yang memang meninggalkan karirnya di bidang lain (yang sangat menjanjikan dan “menghasilkan”) karena mengikuti panggilan hati untuk menjadi seorang motivator. Layaknya dokter, terkadang motivator ini juga punya bidang spesialisasinya. Ada yang spesialis jadi motivator untuk sedekah seperto Ipho Santosa. Ada yang menjadi motivator di bidang kewirausahaan, bisnis, dan pengembangan diri seperti Billy Boen. Dan juga ada yang tidak secara khusus menekuni bidang motivasi tertentu, namun petuah-petuah dan tulisan-tulisannya telah banyak menyentuh hati dan pikiran banyak orang agar dapat menjadi seseorang yang lebih baik, seperti Mario Teguh dan Jamil Azzaini. Lebih jauh lagi, beberapa waktu lalu aku lihat ada seorang tokoh yang menamakan profesinya sebagai “Motivasinger” (mungkin karena dia menjalankan profesi motivator dengan bernyanyi) dan juga ada “Motivartist” seperti Marshanda. Kesemua tokoh motivator di atas, aku pandang sebagai orang-orang baik yang mau membangunkan segenap orang-orang yang sedang tertidur dan terbuai mimpi untuk benar-benar bangun dan mengejar mimpinya dengan aksi nyata; yang mau mengajak orang-orang yang sedang mencari jati diri untuk mengintip dengan jujur ke dalam dirinya, bergegas berbenah dan berpindah ke kondisi yang lebih baik.

Kadang, ada juga orang-orang yang tidak bermaksud menjadi motivator, namun telah memberikan suatu value atau hikmah bagi kita. Mereka adalah orang-orang yang tidak berbuat apa-apa secara khusus untuk kita, namun telah mengubah banyak hal dalam diri kita. Aku menyebut orang-orang ini sebagai inspirator. Hampir setiap orang punya sisi tertentu yang bisa kita teladani, dan kita jadikan inspirasi serta katalisator untuk pengembangan diri. Entah itu akhlaknya, pemikirannya, tulisannya, pencapaiannya, aksinya, gebrakannya, atau apapun. Dan dengan banyaknya social network seperti saat ini, proses mengambil inspirasi, motivasi, atau teladan itu jadi jauh lebih mudah. Bahkan aku terinspirasi membuat tulisan ini adalah karena barusan aku buka twitter, dan hampir semua tweet yang ada di home ku isinya adalah tweet-tweet motivasi dari berbagai akun pribadi/akun dengan admin. Aku lihat TV, nampak lagi ada seorang motivator di sana. Buka instagram, adaaa saja gambar bertulisan yang isinya motivasi. Nah, makanya, rasanya tidaklah salah jika kemudian aku memandang zaman sekarang ini selain Zaman Informasi dan Telekomunikasi tapi juga Zaman Motivasi dan Inspirasi.

Lalu, apa poin pentingnya? Poin pentingnya adalah bagaimana harusnya kita bersikap di tengah arus deras motivasi dan inspirasi itu. Bagaimana kita memanfaatkannya. Idealnya memang adalah bagaimana kita memanfaatkannya untuk benar-benar bisa menjadi “The Best Version of Myself” setelah dapat berbagai motivasi dan inspirasi itu. Walaupun demikian, buatku pribadi, actually that’s not the most important thing. Bagaimana pun kita adalah manusia yang punya keretakan dimana-mana. Kita ga mungkin pernah bisa sempurna. Jadi apa dong? Buatku, yang paling penting bukan “be the best”-nya, melainkan “always be in the path of being the best version of myself”. Its not about the end goal, but the process toward it. Dan semua motivasi dan inspirasi tadi seharusnya bisa kita manfaatkan dalam proses menjadi orang yang lebih baik. Ambil hikmahnya, pahami baik-baik, dan jadikan sebagai katalisator perbaikan diri.

Yah, begitulah.. Sekarang kita hidup di zaman yang sangat penuh dengan kata-kata motivasi, tokoh-tokoh inspiratif.. Sampai kadang diri ini merasa “kekenyangan”. Sayangnya, motivasi dan inspirasi tadi seringkali tidak menjelma menjadi “energi” untuk membenahi diri. Sebagian menguap hanya jadi memori yang tidak diolah. Sebagian hanya dipahami sekilas dan sekedar menjejak di timeline/tweet kita sebagai suatu bentuk gaya-gayaan supaya terlihat keren (na’udzubillahimindzalik). Yang parahnya, bisa juga hal-hal positif seperti prestasi orang lain yang seharusnya bisa jadi katalisator buat kita, justru malah makin bikin kita terpuruk dalam ketidakpercayaan diri dan perasaan kerdil (kelihatan unbelievable, tapi kenyataannya memang ada orang yang seperti ini). Semoga kita bukan bagian dari itu.

Throwing-back.. Peradaban manusia berkembang… Mulai dari zaman berburu yang hanya memikirkan perut sendiri, sampai pada zaman motivasi dimana ada manusia yang justru peduli dan menginginkan terjadinya kebaikan pada orang lain. Fitrahnya, manusia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, hari demi hari, zaman demi zaman… Sama hal nya dengan kita yang selalu berusaha untuk jadi insan yang lebih baik, Ramadhan demi Ramadhan… Back again, bagiku, yang terpenting adalah kita selalu berada dalam track yang benar, the path of being the best version of our selves.

Ramadhan Mubarak, everyone!
Lillah, Lets do our best! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s