Confusio


Di suatu malam, seorang mahasiswi semester 7, sebut saja Dina, seharusnya tengah berkutat dan berjibaku dengan suatu produk olahan kayu berisi susunan aksara-aksara Latin yang tertata apik dari zat kimia karbon membentuk limpahan ilmu yang kan berguna bagi nusa bangsa dan agama, yang biasa disebut dengan kertas fotokopian KP. Singkatnya, malam ini aku harusnya belajar untuk ujian!

Tapi, jemari ini kian menyeret mata, hati, dan pikiran, untuk menari di atas deretan papan kunci *baca: keyboard*, tergelitik untuk menyumbangkan nasihat untuk segenggam hati yang sedang resah, sebongkah jiwa yang sedang gelisah menunggu datangnya kepastian yang sebenarnya sudah pasti.

Hai kawanku yang tengah resah… Masa muda ini terlalu singkat untuk kau habiskan dengan lamunan yang tak kunjung habis, sesak yang tak tau arah. Orang bilang kau sedang galau. Aku bilang kau hanya sedang kurang sabar. Sabarlah kawan… Apa yang kau sesakkan? Apa yang kau paksakan? Mengapa kau tak alirkan limpahan energimu yang tersiramkan gairah masa muda itu ke sesuatu yang kan buatmu lebih tersenyum kelak? Mungkin dengan menyibukkan diri belajar. Mungkin dengan mengistiqamahkan diri membuat skripsi. Atau menantang diri memulai bisnis. Atau menyumbangkan diri ikut kegiatan-kegiatan lain yang berguna daripada sekedar menatap layar penuh radiasi untuk sekedar menguntit akun jejaring sosialnya.

Tak mau kah kau di masa tuamu kelak menjadi nenek-nenek atau kakek-kakek (?) duduk merajut di kursi goyang sambil ditemani kucing yang bergelung di kakimu? Eh, salah. Maksudnya, tak mau kah kelak kau tersenyum mengenang masa mudamu yang kau habiskan dengan penuh kerja keras menggapai mimpi. Sambil terus bersabar menahan gejolak diri yang memang wajar kau alami, hanya saja belum patut kau umbar hingga seluruh Indonesia tahu. Sabarlah wahai kawanku… Karena yang kau resahkan itu sesungguhnya telah pasti adanya. Telah Dia ukirkan namamu bersanding dengan namanya. Di sana, Lauhul Mahfuz. Aku tidak tahu pasti, apakah Lauhul Mahfuz ini terbuat dari bahan olahan kayu yang sama dengan kertas-kertas KP ku *ngasal*, tapi yang jelas namanya sudah ditakdirkan untukmu. Dan kau hanya perlu bersabar…

Sungguh, aku tak bermaksud sok bijak. Apalagi sok tua. Karena aku masih terlalu imut untuk dibilang tua. *narsisism is in the air, kawan!* Tapi serius deh. Aku cuma peduli. Karena aku pun pernah mengalami ketidaksabaran seperti yang kau alami. Bahkan sejatinya, mata, hati, dan pikiranku ini setuju untuk mengikuti tarian jemariku bukan hanya semata karena ingin menasihatimu, tapi juga ingin memberikan peringatan lagi untuk diriku sendiri.

Jadi mari kita sedikit bersabar… Dan alirkan energi yang mereka sebut kegalauan ini ke PLTU alias Pembangkit Listrik Tenaga Ujian atau ke PLTS alias Pembangkit Listrik Tenaga Skripsi *apalah ini!*. Ah, sudahlah. Aku kira kau sudah cukup paham kini. Maka mari gerakkan ujung kanan bibirmu ke kanan 2 cm, dan tarik juga ujung kirinya ke kiri 2 cm. Alias, cobalah tersenyum.πŸ™‚ Istighfar, bersyukur, dan mari ikhlaskan dan tawakkalkan segalanya hanya pada Sang Ahli Mempertemukan….πŸ™‚

Bak kata mamanya Phil Collins..

You can’t hurry love
No, you’ll just have to wait
Just trust in a good time
No matter how long it takes”

Sudah lega sekarang? Kalo sudah, yuk, belajar lagi… Selamat belajar…πŸ™‚

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s