Perpanjang Umur dengan Silahturrahmi


Seperti postingan dina sebelumnya, ini kita baru 2 minggu lho ditinggalkan oleh Ramadhan… Jadi mau ga mau, masih ada suasana Idul Fitrinya… Suasana penuh kekeluargaan dan silahturahminya..🙂 Nah, di postingan kali ini, dina mau berbagi sedikit info seputar Idul Fitri, silahturahmi, dan kesehatan… Kira2 apa ya kaitan ketiganya? Check this one out yaa..🙂

Perpanjang Umur dengan Silahturrahmi

oleh: Dina Fitri Fauziah

 

Suasana Idul Fitri masih terasa sampai saat ini walaupun hari raya tersebut telah meninggalkan kita kurang lebih 2 minggu yang lalu. Salah satu hal yang identik dengan Idul Fitri adalah silahturahmi. Semua sanak saudara serta kerabat dekat maupun jauh saling maaf-bermaafan dan menjalin silahturahmi. Semuanya merasakan betapa indah dan menyenangkannya silahturahmi tersebut.

Salah satu keutamaan dari silahturahmi adalah dapat memperpanjang umur. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,  “Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557). Selain itu, hal ini juga diperkuat oleh hadits yang berbunyi, “Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hadits hasan). Tapi, benarkah silahturahmi dapat memperpanjang umur? Bagaimana kajian mengenai hal ini dari segi ilmiah?

Beberapa peneliti telah berusaha untuk membuktikan hal ini secara ilmiah. Salah satunya adalah Hold Lunstad, seorang psikolog dari Brigham Young University di Utah, yang memimpin suatu tim untuk meneliti efek hubungan sosial pada kesehatan. Tim tersebut melakukan analisis terhadap lebih dari 308.000 orang yang kehidupannya dipantau selama kurang lebih 7,5 tahun. Hasil penelitian tersebut, yang dipublikasikan di jurnal Plos Medicine terbitan Public Library of Science (2010), menyimpulkan bahwa orang dengan hubungan sosial yang kuat akan 50% lebih panjang umur dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki hubungan sosial yang kuat.

Selain itu, juga terdapat penelitian lain yang dilakukan oleh Berkman dan Syme, ahli epidemiologi penyakit, terhadap gaya hidup dan kesehatan penduduk Alameda County, California yang berjumlah 4.725 orang antara tahun 1965-1974. Hasil penelitian menemukan bahwa orang yang eksklusif (tertutup) memiliki angka kematian tiga kali lebih tinggi daripada orang yang rajin bersilaturahmi dan menjalin hubungan sosial.

Fakta ini juga dibenarkan oleh Myriam Horsten, seorang dokter yang meneliti hubungan antara faktor psikososial, termasuk di dalamnya interaksi sosial seseorang, dengan variabilitas denyut jantung (heart rate variability atau disingkat HRV). Penelitian ini dilakukan bersama para koleganya dari Karolinska Institue, Stockholm, Swedia, dengan mengukur dan merekam denyut jantung 300 orang wanita sehat berusia 30–65 tahun selama bertahun-tahun. Berdasarkan hasil penelitian ini, ditemukan bahwa orang-orang yang mengisolasi dirinya dari lingkungan (tidak memiliki hubungan sosial yang baik) cenderung mengalami aktivasi saraf simpatis kronis dan supresi saraf parasimpatis kronis. Hubungan sosial yang tidak baik dapat dideskripsikan sebagai seseorang yang tidak mendapatkan dukungan sosial yang cukup dari lingkungannya, tidak suka menjalin pertemanan, tidak mendapatkan penghargaan dari sekitarnya, tidak memiliki teman untuk berbagi dan menyelesaikan masalah, kurangnya sense of belonging terhadap lingkungan, dll. Keadaan ini dapat menyebabkan penurunan HRV. Penurunan HRV ini mencerminkan terjadinya penurunan homeostasis tubuh serta terdapatnya kerentanan neurofisiologi terhadap efek stres yang berbahaya. Kemampuan jantung untuk menghadapi keadaan-keadaan stres fisiologis juga akan berkurang. Dengan kata lain, individu yang bersangkutan menjadi lebih rentan terhadap suatu serangan. Hal ini dibenarkan melalui studi Framingham dan Zutphen yang dilakukan oleh Dekker, dkk, yang menyatakan bahwa penurunan HRV ini seringkali berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian. Keadaan lain yang juga menunjukkan penurunan HRV adalah merokok, sedentary lifestyle, BMI yang tinggi, dan hipertensi.

Sebaliknya, individu yang memiliki hubungan sosial yang baik menunjukkan variasi denyut jantung atau HRV yang normal. Hal ini mungkin dikarenakan oleh dinamika emosi yang terjadi ketika individu tersebut berinteraksi dengan berbagai tipe manusia. Individu ini dapat merasakan berbagai emosi, seperti: bahagia, bersemangat, cemas, optimis, takut, tegang, berelaksasi, dll. Hal ini tentu tidak terlalu sering terjadi pada orang yang jarang berinteraksi dengan orang lain. Berbagai macam emosi yang dialami oleh individu di atas akan menyebabkan terjadinya variasi dalam ritme denyut jantungnya. Menurut Horsten, jantung yang terbiasa memiliki variasi ritme berdenyut tersebut adalah jantung yang berolahraga. Jantung ini menjadi terlatih, kuat, dan sangat sehat. Sehingga tidak rentan terhadap suatu serangan.

Berdasarkan penjabaran di atas, terbuktilah kebenaran hadits Rasulullah SAW. Menjalin dan memperbanyak silahturahmi memang terbukti secara ilmiah dapat menguatkan jantung serta memperpanjang umur, bahkan dalam maknanya yang paling lugas. Jadi, mari bersilahturahmi…🙂

ditulis untuk Artikel Kedokteran Islam IMC FSKI FK Unand 2010-2011

Sumber:

http://samuderahikmahku.blogspot.com;

http://biblioteca.sp.san.gva.es/;

Buku Dalam Dekapan Ukhuwah karangan Salim A. Fillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s