Bercermin


Coba bayangkan. Ada cermin. Lalu kamu bercermin. Kamu lihat bayangan diri kamu ada di dalam cermin. Dari bayangan itu, kamu lihat ada yang ga beres dari penampilan kamu. Bisa jadi, itu jilbabmu yang kurang rapih, atau sisa coklat yang kamu makan tadi di pinggir bibirmu, atau bedak yang ketebelan (masya Allah.. hihi). Lalu kamu coba untuk perbaiki sesuatu yang ga beres itu. Yang mana yang akan kamu perbaiki? Ketidakberesan bayanganmu di cermin, atau ketidakberesan di dirimu sendiri? Ya pastilah, ketidakberesan di dirimu. Trus setelah beres, kamu pun puas. Lalu kamu tersenyum.πŸ™‚

“Setiap mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya…” (H.R. Ath Thabrani)

Ada saudari Muslimahmu, si XX. Maka dia adalah cermin bagimu. Cermin yang akan memantulkan bayangan. Bayangan siapa? Sudah pasti dong bayangan kamu. Sifat buruknya yang kamu lihat, sejatinya adalah sifat buruk yang juga ada dalam diri kamu dan kamu lihat dengan sangat cepat di dirinya. Kenapa kamu bisa lihat sifat buruk di diri si XX itu dengan sangat cepat? Karena kamu kenal banget sama sifat buruknya itu. Kenapa? Ya gimana ga kenal, wong itu juga sifat buruk kamu sendiri kok! Jadi siapa yang diperbaiki lebih dahulu? Cerminnya, atau orang yang bercermin? Hayoo.. Pernah lihat ada orang yang bercermin terus bayangannya yang di cermin yang diperbaiki? Bisa-bisa dibilang orang geloh.. (hihi).. Jadi, ya, dirimu dulu yang diperbaiki.. Karena saudara muslimahmu itu adalah cermin.. Dan kamulah yang bercermin..πŸ™‚
THIS IS A NOTE TO MY SELF!πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s