Sebuah Pesan… Tak Hanya Untukmu… Tapi juga Untukku…


Di suatu masa, Otak berkata kepada Hati…

“Wahai Hati…

Saudaraku yang kucintai karena Allah…

Betapa kuinginkan kemuliaanmu…

Betapa ingin kulihat dirimu kembali putih… Kembali bersih… Kembali suci…

Seperti saat kita dilahirkan dulu…

Seperti pada saat kita berjanji pada Rabb kita dulu…

Untuk selalu setia pada Nya..

Selalu taat padaNya…

.

Wahai Hati…

Telah kuberitakan padamu betapa ingin kulihat kau bahagia…

Betapa kuharapkan keselamatanmu…

Tidak hanya saat ini…

Tapi juga kelak… Di surga yang telah dijanjikanNya …

.

Untuk itu…

Katakanlah wahai Hati… Sebutkan padaku…

Apa lagi yang harus kuberikan padamu???

Sebutkan saja… Apa lagi???

Karena sesungguhnya telah kuberikan Logika-ku untukmu…

Agar kau kuat!

Agar kau teguh!

Agar kau tangguh!

Dan mampu berkata TIDAK pada si Nafsu!

Agar kamu mampu mengalahkannya!

Mampu menolak semua akal bulusnya!

Mampu menebas semua rayuannya!

Yang mengajakmu untuk menjauh dari Rabb kita…

.

Sebutkanlah wahai Hati…

Selain Logika, apa lagi yang harus kuberikan padamu???”

Tak ingin ketinggalan, Mulut pun berkata pada Hati…

”Benar, wahai Hati! Silahkan…. Sebutkan pada kami…

Apa yang harus kami lakukan untuk membantumu agar menjadi kuat…???

Agar benteng dirimu terhadap si Nafsu menjadi tinggi kembali…

.
Dan tolong juga wahai Hati..

Jangan kau siksa aku lagi!

Tahukah kau???

Saat dengan penuh semangat kuucapkan “ALLAHUAKBAR!”, sesungguhnya aku ingin menangis…

Kuingin tangisi ketidakberdayaanku …

Kuingin tangisi kemunafikanku…

Karena saat kuagungkan Tuhan… Saat kubesarkan namaNya… Sejatinya bukan Dialah yang terbesar yang ada di dirimu wahai Hati!!! Bukan dia! Ada hal lain yang lebih mendominasi! Ada hal lain yang lebih besar di dirimu! Yang menguasaimu! Dan Tuhan kita hanya jadi yang nomor ke-sekian!

Sungguh tega dirimu wahai Hati! Kau jadikan diriku penuh kemunafikan!”

Mata pun akhirnya ikut mengeluarkan unek-uneknya pada Hati… Namun, dengan sedikit lebih keras…

“Benar, wahai Hati!!! Mengapa tak bisa kau lebih kuat sedikit! Dan katakan TIDAK pada si Nafsu yang menggodamu!

Mengapa kau paksa aku untuk mendurhakai Tuhanku!??

Mengapa kau paksa aku untuk melihat orang yang bukan muhrimku!

Bahkan dengan teganya kau paksa si mulut untuk tersinyum simpul saat ku menatapnya…

Kau paksa kami melawan fitrah kami!

.

Tak sadarkah dirimu wahai Hati???

Saat kau paksa aku memuaskan keinginanmu untuk menatap lekat orang itu, sebenarnya tidak hanya aku yang berdosa! Tidak hanya aku!

Tapi Hati orang itu juga! Karena kalian sama saja! Engkau dan Hatinya sama-sama tak mampu berkata TIDAK pada si Nafsu!

Kau dan Hatinya telah memaksa  aku dan Matanya untuk mendurhakai Rabb kami!

Padahal, sebelumnya, sebelum aku menatapnya, Hatinya adalah Hati yang bersih, yang suci… Tapi panah-panah Nafsumu menguatkan Nafsunya untuk menatapku juga…

Hingga terjunlah kami pada lembah dosa…

Tega! Sungguh Tega!”

Kini si Jari yang bersuara…

“Benar wahai Hati.. Saudaraku yang kucintai…

Tolong jangan paksa aku lagi untuk menekan tombol HP itu…

Tolong…

Jangan kau paksa aku untuk merangkai kata-kata indah namun penuh laknat Allah…

Jangan kau paksa aku hai Hati…

Tolong…”

Mendengar ucapan saudara-saudaranya, Sang Hati pun menangis…

Setetes demi setetes air matanya mengalir…

Membasahi tubuhnya yang kelam…

Dia lihat dirinya… Sungguh penuh dengan noktah hitam…

Noktah hitam yang menandakan dosanya selama ini…

Menandakan ketidakberdayaannya…

Menandakan kekalahan terhadap Si Nafsu yang Bejat…

Si Nafsu  telah memperdayanya selama ini…

Dan membuatnya kehilangan kekuatan…

Kehilangan harga diri…

Dan nyaris kehilangan cinta dari Rabb dan saudara-saudaranya…

.

Kini ia sadar,ia harus kuat! Ia harus mampu menolak Si Nafsu!

Ia harus bisa! Ia harus sanggup!!!!

.

.

.

Sayup-sayup, terdengar suara pelan yang penuh kelembutan…

Suara siapa itu???”, Tanya Hati…

Suara yang sayup-sayup sampai itu diikuti oleh sebercik cahaya yang muncul di sudut tubuhnya…

Cahaya itu mengintip… Seolah-olah hendak mengeluarkan diri dari lautan noktah hitam yang menyelimuti  Sang Hati…

Kamu… Kamu…. Kamu Iman, kan???”, Tanya Hati..

“Ya, aku Iman…”, jawabnya…

“Syukurlah Iman… Kau hadir lagi… Betapa bahagianya diriku melihatmu Iman… Sungguh… Aku benar-benar membutuhkanmu saat ini… Tolonglah aku… Tolonglah aku menghapuskan ketidakberdayaanku dalam menghadapi si Nafsu… Bantu aku untuk kembali dekat dengan Rabbku wahai Iman…” Pinta Sang Hati…

Iman pun tersenyum…

“ Wahai Hati… Sesungguhnya aku tak pernah pergi… Aku selalu ada di dirimu…

Hanya saja, dulu, kau terlalu terpesona dengan buaian si Nafsu.. Hingga tak mau mendengar nasihatku …

Di saat kau benar-benar tidak memperdulikanku, satu per satu noktah dosa itu mulai menutupi dirimu… Satu dosa, diikuti oleh dosa-dosa lainnya…

Memang, terkadang mereka terhapus, saat dirimu sadar sejenak, dan saat Mulutmu mengucapkan “Astaghfirullah…”

Saat itu sesudut tubuhmu kembali bersih dan putih…

Namun si Nafsu kembali datang…  Antek-antek setan itu tidak senang melihatmu begitu bersih… Dan ia menggodamu lagi… Hingga hadirlah kembali noktah-noktah hitam itu… Dan menutupi aku… Hingga suaraku, maupun cahayaku, tak lagi mampu mempengaruhimu….

Dan disanalah aku… Terselimuti noktah hitam dosa-dosamu…

.

Tapi kini aku bahagia,, saudara-saudaramu yang baik telah mengingatkanmu agar kau kembali suci… Dan di sinilah aku… Kembali hadir menemanimu… Kuharap kali ini kehadiranku dapat menjadikanmu lebih kuat… Lebih tangguh… Lebih perkasa… Dan mampu mengalahkan Nafsu itu…”

“Alhamdulillah…. Terimakasih ya Allah… Telah Kau kirimkan senjata yang paling ampuh untuk Sang Hati… Sehingga kini ia mampu mengalahkan Nafsu yang bejat itu…,” ucap Otak, Mulut, Mata, dan Jari…

.

Alhamdulillah, saudara-saudaraku… Terimakasih telah mengingatkanku… Terimakasih telah mendekatkanku kembali pada cahaya Iman dan Rabbku… Terimakasih.. Sungguh kalianlah teman sejatiku… Yang mengingatkanku di saat khilaf… Yang tak mau menyaksikan kehancuranku… Terimakasih saudara-saudaraku… “ ucap Hati..

.

Otak pun berkata…

“Hai Hati… Tahukah dirimu akan sabda Rasulullah saw???

‘Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging…  Jika baik, maka baiklah seluruh tubuhny… Jika rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya… Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari & Muslim)

Karena itulah kami sepakat untuk menguatkanmu Hati… Karena jika dirimu kuat dan mampu melawan Nafsu, kita bersama akan berada dalam keadaan yang baik… Dan insya Allah akan selalu bahagia bersama, sampai di surgaNya kelak… Amiiin, Ya Allah… Amiiin….


Dan akhirnya… Persaudaraan yang dilandasi oleh Iman itu pun berbahagia… Dunia wal Akhirat… Mereka bahagia… Menikmati menara-menara tinggi yang telah dijanjikan untuk mereka…


*NB:

Ukhtiy…

kutuliskan prosa ini atas dasar cintaku padamu, karena Allah…

Tak ada niat menghakimi… Apa lagi membenci…

Sungguh… Ini murni sebagai pengingat… Agar kita kembali membenahi diri yang tak sempurna…

Tidak hanya dirimu wahai Ukhtiy… Tapi pastinya juga diriku…

Semoga bisa diambil hikmahnya dari prosa ini ya Ukh…

Semoga suara Hatiku dapat terdengar oleh Hatimu…

Layaknya suara Otak, Mulut, Mata, dan Jari yang didengarkan oleh Sang Hati di prosa ini..

Sekali lagi, ini atas dasar cintaku padamu ukhtiy…

Bukan untuk apa-apa… Bukan untuk meninggi ataupun membebani..

Hanya agar kita dapat bahagia kelak di surgaNya…

Dan berkumpul bersama, di sekita menara-menara cahaya-Nya… =)

 

“Di sekitar Arasy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi dan syuhada, tetapi para Nabi dan Syuhada iri pada mereka. “Ketika ditanya oleh para sahabat, Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah”

(HR. Tirmidzi).

 

8 thoughts on “Sebuah Pesan… Tak Hanya Untukmu… Tapi juga Untukku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s