Mengambil Cinta di Langit, Lalu Tebarkan di Bumi…


Sudah akrab dengan judul di atas? Yup, bisa dibilang itu adalah tagline dari sebuah buku fenomenal, karya penulis fenomenal Salim A. Fillah, titled Dalam Dekapan Ukhuwah.

-Dalam Dekapan Ukhuwah –

Covernya bermakna banget ya… Buah (Manfaat) dalam Dekapan Ukhuwah… ^^

Na bersyukur banget hari ini bisa dapat sebongkah ilmu dan hikmah dari Ust. Salim A. Fillah. Tadi na ikut acara bedah buku Dalam Dekapan Ukhuwah yang diadain dalam rangka memeriahkan Milad FSKI yang ke-23… (Happy Milad FSKI!!! ^^) Acaranya live di Masjid Nurul Iman… Jadi kangen sama rohis kalo udah ke masjid ini… =’)

Poster Acara Bedah Buku Dalam Dekapan Ukhuwah FSKI FK Unand ^^

Betapa na ga merasa rugi sedikit pun beli n baca buku ini (walaupun belum selesai sih bacanya…) Kok gitu??? Ya iyalah… Ada 2 alasan utama kenapa kamu harus kudu wajib baca buku ini:

1. Kajiannya tentang ukhuwah bener2 bikin kita “melek” dan bersemangat untuk membenahi diri yang terlalu banyak membuat cela dalam ukhuwah…

Ada beberapa poin yang na stabilo-in selama baca buku Ust. Salim ini. Di antaranya bahwa Sungguh tiap mukmin itu bersaudara. Artinya, orang-orang yang benar imannya, akan mencintai sesama mukmin dengan cinta yang tulus ikhlas dengan sendirinya, sebagai buah dari imannya. Artinya, jikalau suatu saat keakraban di antara dua orang yang beriman merenggang, sejatinya yang rombeng bukanlah ukhuwahnya. Hanya iman-iman di antara keduanya saja yang sedang sakit atau mengerdil.

Na juga sangat suka dengan analogi tentang iman yang kuat & pohon yang baik. Coba perhatikan surat cinta-Nya ini…

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu menghasilkan rasa buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon buruk yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun”

(QS. Ibrahim, 14;24-26)

Kalimat yang baik di sini diartikan oleh sebagian besar ulama sebagai kalimat Laa Ilaaha illallaah…which is kalimat Tauhid, yang mengesakan Allah… Kalimat yang hanya diucapkan oleh orang-orang beriman.

Nah, pertanyaannya, kenapa Allah menganalogikan keimanan hambaNya dengan pohon yang baik? Mengapa Allah tidak menganalogikan iman kita dengan kerasnya karang di lautan (untuk menggambarkan betapa kuatnya iman kita), atau dengan luasnya samudera (untuk menggambarkan betapa besarnya keimanan kita padaNya), atau dengan analogi-analogi lain yang dapat menyatakan betapa kokohnya iman kita?? Mengapa harus dengan pohon yang baik?

Karena memang pada hakikatnya tak ada analogi lain yang pas untuk menggambarkan orang  yang beriman.

  • Seorang mukmin laksana pohon yang baik… Akarnya menghujam erat ke tanah laksana iman kita yang menghujam erat di hati kita.
  • Cabangnya menjulang ke langit menggambarkan karya yang dapat dihasilkan oleh seseorang yang beriman. Karena memang hakekatnya iman adalah diyakini dalam hati, dilafadzkan dengan lisa, dan dibuktikan dengan perbuatan. “Itulah iman Islami!  Tidak mungkin tinggal diam tanpa gerak, atau tersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang dinamis di luar diri sang mukmin”. Orang yang benar2 beriman akan bekerja dalam hidupnya sebagai bentuk syukur kepada Allah. Dia akan berusaha, berkarya, atas nama imannya pada Allah. Itu adalah suatu keniscayaan. Siti Hajar berlari-lari kecil bolak-balik bukit Safa dan Marwa untuk mencari setitik mata air guna meneduhkan dahaga anaknya, Ismail. Dia beriman kepada Allah. Dia percaya Allah Maha Pemurah. Tapi ia tidak tinggal diam saja menunggu datangnya air tanpa usaha. Justru, berlari ia, berusaha ia, karena ia yakin Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan iman dan amalnya. Begitulah, berkaryanya seorang mukmin seperti cabang yang menjulang ke langit merupakan suatu keniscayaan dari iman yang benar2 terhujam erat ke hati.
  • Pohon itu menghasilkan rasa buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Begitulah hakekatnya seorang mukmin. Terhujam erat imannya dalam hati, berkarya ia setinggi yang ia mampu, dan memberi kemanfaatan ia kepada orang-orang di sekitarnya. Bahasa yang digunakan Allah dalam ayat itu adalah “ukul” yang bermakna rasa buah, bukan “tsamarat” yang berarti buah. Allah menghendaki setiap mukmin dapat memberikan kemnafaatan yang setinggi2nya bagi orang-orang di sekitarnya… Jika Allah memakai kata tsamarat, bisa dikatakan seorang mukmin hanya memberikan buah (bisa saja dengan cara melemparkannya hingga melukai kepala orang yang terkena). Tapi Allah memakai kata ukul yang bermakna rasa buah. Kita tidak hanya memberikan buahnya, tapi kita berikan rasanya. Ibaratnya apel, sudah kita kubak kulitnya, kita potong2 kecil2, lalu kita suapi. Begitulah seorang mukmin…. Memberikan kemanfaatan tertinggi bagi orang di sekitarnya…. Sudahkah ukhuwah kita se-bermanfaat begini?? Mari berbenah… ^^

2. Bahasanya sungguh meluluhkan hati para pecinta sastra, para penggila bahasa, dan menggelitik jari ini untuk turut merangkai kata.

Yup! Bagi Na pribadi, na benar2 takjub sama bahasa Ust. Salim… Begitu indah (titik). Bikin semangat buat nulis semakin menjadi-jadi… Bikin na mencantumkan suatu poin baru dalam My-Life-Target-List, which is: Nulis Buku. (Hehe,,, telat banget kan ya??? Orang-orang di sekeliling dunia juga udah dari zaman ovum punya cita2 buat nulis buku, eh dina baru sekarang… pie toh iki??)

Biarin, yang penting target telah tertulis, niat telah tertancap, proposal doa telah diajukan. Sekarang  jalani waktu dengan latihan, tambah pundi-pundi ilmu dengan semangat, dan TULIS! JUST WRITE, DINA! And someday u’ll hold the book that u’re dreaming right now…Insya Allah… Amiiin…

Bukan untuk berbangga-bangga… Bukan untuk mendeklarasikan ke-lebih.tahu-an, tapi untuk kembali mendapatkan ilmu yang lebih banyak, menghasilkan kemanfaatan bagi sesama, dan penebus untuk amalan yang tak sempurna. Karena sejatinya, hanya ada tiga perkara yang pahalanya terus mengalir tiada henti, di saat amalan lain telah terputus karna nafas yang tak ada lagi, yaitu Doa Anak yang Sholeh, Amal Jariyah, dan Ilmu yang Bermanfaat. Izinkan hati ini mengurai doa, agar dapat berinvestasi di salah satunya, kalau bisa tiga-tiganya. Amiiiiin….Allahumma amiiiiin…

Well,,,, walaupun sebenernya banyak banget yang mau na tulis tentang betapa meng-inspirasi-nya buku Dalam  Dekapan Ukhuwah ini,,, tapi apa daya, tugas BM menumpuk, deadline pengumpulan slide pleno menyesak (baca: manyasak), dan setrikaan menggunung…. sooo.. Na saranin: u’d better read it, guys! Nothing to lose deh… Investasi ilmu dan akhlak seumur hidup insya Allah… Baca ya…. =)

fastabiqul khairat… ^^

4 thoughts on “Mengambil Cinta di Langit, Lalu Tebarkan di Bumi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s